Sabtu, 13 Oktober 2012

Buku dan Novel


 Negeri 5 Negara       
Nama : Rida Triani
NIM  : 411112011
Judul Buku:  Negeri 5 Menara
Pengarang:  A. Fuadi
Penerbit:  Gramedia Pustaka
Kota Terbit:  Jakarta
Tahun Terbit:  2009
Cetakan:  Pertama, 1 Juli 2009
Tebal Buku:  xiii +  416 Halaman

Ketika teringat novel Negeri 5 Menara karangan Ahmad Fuadi , hal pertama yang terlintas dalam benak saya adalah "mantra" ajaib dinovel tersebut.. Mantra itu adalah Man jadda wajada, mantra yang diajarkan kepada semua murid yang menempuh pendidikan di pesantren Pondok Madani yang dikisahkan dalam novel tersebut. Kurang lebih artinya: barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil...!

Sinopsisnya kurang lebih begini yaaa.... J J


Negeri 5 Menara merupakan novel pertama yang ditulis oleh A. Fuadi, terinspirasi dari kisah nyata. A. Fuadi adalah alumni Pondok Modern Gontor, lulusan kuliah Hubungan Internasional UNPAD, serta pernah menjadi wartawan Tempo dan VOA. Novel Negeri 5 Menara merupakan novel yang diniatkan untuk menjadi ibadah sosial oleh A. Fuadi. Novel ini lebih menekankan pada semangat untuk mewujudkan cita-cita dan kuatnya persahabatan antar tokoh utama dan pendukung.
Cerita ini dimulai dari Arif Fikri, bocah dari pinggiran Danau Maninjau Sumatra Barat, yang tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Alif bercita-cita menjadi “Habibie” serta kebanggaannya bisa masuk kuliah di jurusan teknik ITB dan melalui sekolah umum ia dapat mewujudkan semua itu, apalagi nilainya cukup mendukung. Namun Ibunya menginginkan Alif menjadi seorang ulama besar seperti Buya Hamka. Pilihan yang sulit bagi Alif, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mondok di suatu pesantren di Jawa Timur meskipun dengan keputusan setengah hati.
Hari pertama, Alif terkesima dengan sebuah pepatah arab “man jadda wajada”, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkannya. Akhirnya pepatah arab tersebut menjadi “mantera” ampuh untuk membangun mimpi masa depan dan mewujudkan cita-citanya.

Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai Alif dipertemukan dengan Baso dari Gowa yang berusaha mati-matian menghafal 30 juz Alquran sebagai syarat untuk menggapai impiannya bersekolah di Madinah, Atang dari Bandung, Raja dari Medan yang mempunyai hobi membaca buku tebal, Dulmajid dari Sumenep dan Said dari Surabaya. Akhirnya kebersamaan mereka di sebut ‘Sahibul  Menara’.
Di bawah menara masjid Pondok Madani yang berdiri kokoh, para Sahibul Menara sering berkumpul menunggu magrib sambil menatap awan lembayung yang bergerak ke ufuk. Awan itu mereka gambarkan seperti benua impian mereka masing-masing. Aturan berbahasa yang ketat membuat para Sahibul Menara harus berusaha keras menyesuaikan diri. Cobaan demi cobaan menghadang mereka mulai dari menjadi Jasus hingga menjadi Shaolin Temple. Namun, bagi Alif cobaan terberat adalah menahan keinginannya untuk bersekolah seperti Randai sahabat semasa SMA nya yang berkuliah di ITB. Empat tahun berlalu para Sahibul Menara berpisah untuk menggapai cita-cita masing-masing. Akhirnya, para Sahibul Menara, yaitu Alif dari Washington DC, Atang dari Kairo, dan Raja dari London bernostalgia bersama di  London, sebuah impian yang tak terduga.

Novel ini mampu mengungkapkan tentang dahsyatnya sebuah mimpi serta menguak sisi positif dari sebuah pondok pesantren. Kebanyakan orang menganggap bahwa pondok pesantren hanya untuk belajar agama, tetapi dalam novel ini pondok pesantren adalah gerbang untuk mengetahui dunia luar dengan cara mempelajari bahasanya.
Walaupun Novel ini bukan terbitan baru, tapi bagi saya selalu berkesan dan ceritanya tak akan pernah usang. Novel ini mengandung seribu pepatah dan memotivasi kita dalam menggapai sebuah mimpi..
Buat teman-teman yang belum pernah baca tow menonton film nya,, cepetan baca yaa,, biar semangat kita untuk menggapai mimpi tak pernah padam.. Karena ingat lah “Man Jadda Wajada”.. J J..

J Sekian J


Tidak ada komentar:

Posting Komentar