Negeri 5 Negara
Nama : Rida Triani
NIM : 411112011
Judul Buku:
Negeri 5 Menara
Pengarang: A. Fuadi
Penerbit: Gramedia Pustaka
Kota Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2009
Cetakan: Pertama, 1 Juli 2009
Tebal Buku: xiii +
416 Halaman
Ketika teringat novel Negeri 5 Menara karangan Ahmad Fuadi , hal pertama yang terlintas dalam benak saya adalah "mantra" ajaib dinovel tersebut.. Mantra itu adalah Man jadda wajada, mantra yang diajarkan kepada semua murid yang menempuh pendidikan di pesantren Pondok Madani yang dikisahkan dalam novel tersebut. Kurang lebih artinya: barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil...!
Sinopsisnya kurang lebih begini yaaa.... J J
Negeri 5 Menara merupakan
novel pertama yang ditulis oleh A. Fuadi, terinspirasi dari kisah nyata. A.
Fuadi adalah alumni Pondok Modern Gontor, lulusan kuliah Hubungan Internasional
UNPAD, serta pernah menjadi wartawan Tempo dan VOA. Novel Negeri
5 Menara merupakan
novel yang diniatkan untuk menjadi ibadah sosial oleh A. Fuadi. Novel ini lebih
menekankan pada semangat untuk mewujudkan cita-cita dan kuatnya persahabatan
antar tokoh utama dan pendukung.
Cerita ini dimulai dari Arif Fikri, bocah
dari pinggiran Danau Maninjau Sumatra Barat, yang tidak pernah menginjak tanah
di luar ranah Minangkabau. Alif bercita-cita menjadi “Habibie” serta
kebanggaannya bisa masuk kuliah di jurusan teknik ITB dan melalui sekolah umum
ia dapat mewujudkan semua itu, apalagi nilainya cukup mendukung. Namun Ibunya
menginginkan Alif menjadi seorang ulama besar seperti Buya Hamka. Pilihan yang
sulit bagi Alif, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mondok di suatu pesantren
di Jawa Timur meskipun dengan keputusan setengah hati.
Hari pertama, Alif terkesima dengan sebuah
pepatah arab “man jadda wajada”,
siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkannya. Akhirnya pepatah arab
tersebut menjadi “mantera” ampuh untuk membangun mimpi masa depan dan
mewujudkan cita-citanya.
Dipersatukan
oleh hukuman jewer berantai Alif dipertemukan dengan Baso dari Gowa yang berusaha
mati-matian menghafal 30 juz Alquran sebagai syarat untuk menggapai impiannya
bersekolah di Madinah, Atang dari Bandung, Raja dari Medan yang mempunyai hobi
membaca buku tebal, Dulmajid dari Sumenep dan Said dari Surabaya. Akhirnya
kebersamaan mereka di sebut ‘Sahibul
Menara’.
Di
bawah menara masjid Pondok Madani yang berdiri kokoh, para Sahibul Menara
sering berkumpul menunggu magrib sambil menatap awan lembayung yang bergerak ke
ufuk. Awan itu mereka gambarkan seperti benua impian mereka masing-masing.
Aturan berbahasa yang ketat membuat para Sahibul Menara harus berusaha keras
menyesuaikan diri. Cobaan demi cobaan menghadang mereka mulai dari menjadi
Jasus hingga menjadi Shaolin Temple. Namun, bagi Alif cobaan terberat adalah
menahan keinginannya untuk bersekolah seperti Randai sahabat semasa SMA nya
yang berkuliah di ITB. Empat tahun berlalu para Sahibul Menara berpisah untuk
menggapai cita-cita masing-masing. Akhirnya, para Sahibul Menara, yaitu Alif
dari Washington DC, Atang dari Kairo, dan Raja dari London bernostalgia bersama
di London, sebuah impian yang tak terduga.
Novel
ini mampu mengungkapkan tentang dahsyatnya sebuah mimpi serta menguak sisi
positif dari sebuah pondok pesantren. Kebanyakan orang menganggap bahwa pondok
pesantren hanya untuk belajar agama, tetapi dalam novel ini pondok pesantren
adalah gerbang untuk mengetahui dunia luar dengan cara mempelajari bahasanya.
Walaupun
Novel ini bukan terbitan baru, tapi bagi saya selalu berkesan dan ceritanya tak
akan pernah usang. Novel ini mengandung seribu pepatah dan memotivasi kita
dalam menggapai sebuah mimpi..
Buat
teman-teman yang belum pernah baca tow menonton film nya,, cepetan baca yaa,,
biar semangat kita untuk menggapai mimpi tak pernah padam.. Karena ingat lah “Man Jadda Wajada”.. J J..
J Sekian J


Tidak ada komentar:
Posting Komentar