Nama : Ria Sri Rahayu
NIM : 411112007
Jika
bukan kita yang melestarikan batik, siapa lagi?
Sekitar
lima belas tahun lalu, kain batik seperti hanya punya dua fungsi: menjadi
pakaian resmi untuk acara penuh urutan protokoler, atau menjadi busana rumahan
alias daster para ibu. Kepandaian dan kejelian para desainer yang cinta budaya
Indonesia membalikkan semua ‘kebiasaan’ itu. Obin dan Edward Hutabarat
menunjukkan bahwa kain batik telah mengalami metamorfosis, mulai baju
sehari-hari hingga gaun mewah, semua bisa diwujudkan dari kain batik. Padu
padan dengan kain lain, tabrak motif dan juga teknik pecah pola membuat kain
batik semakin cantik.
Aksi
pengakuan beberapa motif batik oleh negara tetangga seperti blessing in
disguise. Masyarakat Indonesia seperti digugah untuk semakin mengenal budaya
negeri sendiri. Usaha-usaha memeroleh pengakuan internasional sebagai pemilik
batik pun mulai dilakukan. Dan tahun lalu, Unesco mengukuhkan Batik Indonesia
sebagai warisan budaya.
Indonesia,
Rumah Batik
Yayasan
Batik Indonesia memperingati Hari Batik Nasional 2011 dengan menyelenggarakan
World Batik Summit. Kegiatan bertaraf internasional ini diisi konferensi soal
batik dan pameran, diadakan di Jakarta Convention Center. Diikuti sebelas
negara, puncak acara adalah sebuah Malam Pertunjukan Seni Budaya yang
menampilkan karya perancang busana dari Indonesia, Cina, Jepang, dan Malaysia
menggunakan batik Indonesia asli. Acara penutup ini sekaligus menunjukkan
pencapaian akhir forum ini, yaitu sebuah deklarasi yang menyatakan bahwa Indonesia
adalah asal muasal batik di seluruh dunia, Indonesia is global home of batik.
Prosesnya,
Bukan Motifnya
Banyak
yang salah kaprah, mengartikan bahwa batik hanyalah motif. Padahal yang
dimaksud sebagai batik adalah proses pembuatannya. Untuk semakin memperdalam
pengetahuan tentang hal tersebut, sutradara ternama Nia Dinata membuat sebuah
film dokumenter berjudul Batik, Our Love Story.
Masalah
para pembatik, proses pembatikan yang rumit, dan motif-motif warisan yang harus
dilestarikan diungkap dalam film tersebut. Beberapa perajin batik dari
Pekalongan, Cirebon, Lasem, Yogyakarta, dan Madura menjadi narasumber.
Menyaksikan film tersebut, terasa betul bahwa proses yang harus dilakukan dari
sehelai kain menjadi kain batik bukanlah hal sederhana. Dimulai dari membuat
pola, membatik, mewarnai, melorod, dan menjemur, proses ini akan semakin rumit
ketika desain motif membutuhkan banyak warna. Tak heran, seorang perajin
mengaku membutuhkan lebih dari setahun untuk mengerjakan sehelai kain.
Persoalan regenerasi pembatik menjadi hal penting untuk memastikan bahwa batik
akan selalu ada di Indonesia. Daya tarik kerja di pabrik lebih besar dibanding
jadi pembatik, adalah salah satu “penghalang” terjadinya regenerasi pembatik.
Tak
Hanya Kain
Perhatian
masyarakat pada batik memang makin besar. Meski masih jarang yang peduli
perbedaan batik tulis, batik cap, atau kain motif batik, bukan berarti mereka
acuh pada kekayaan Indonesia itu. Selain mulai banyak yang gemar mengenakan
busana batik dalam berbagai kesempatan, beberapa anak muda mengakrabi lagi
motif-motif asli Indonesia. Semakin banyak yang paham tentang motif parang,
mega mendung, sampai motif kompeni. Batik khas juga digali kembali. Galeri
Batik Jawa di Jakarta, misalnya secara khusus memopulerkan lagi batik indigo.
Dengan
semakin besarnya animo masyarakat, batik lalu meluas, tak lagi hanya
diaplikasikan pada kain. Tahun lalu, deasiner Carmanita membatik sebuah
Mercedes C250 dengan motif sekar jagat. Inspirasi serupa diwujudkan Mohammad
Abduh, seorang pengusaha yang tinggal di Bekasi, untuk memopulerkan furnitur
batik, bahkan juga menerima pesanan gitar dengan motif sesuai keinginan
pelanggan. “Membatik di kain, sudah biasa, banyak saingan. Jadi sejak tiga
tahun lalu saya coba membatik di atas kain jati atau kayu sonokeling. Semua
proses pembatikan saya lakukan pada furnitur saya, termasuk melorod dan
mewarnai,” tutur Abduh yang memasarkan produknya secara online lewat
Rumahbatik.com.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar